Ayat Alkitab: Matius 26:47-56

Sebelum masuk dalam pembahasan firman Tuhan, bagian yang paralel dengan pembacaan Matius 26:47-56 yaitu Yohanes 18:1. Tuhan Yesus ditangkap di taman Getsemani, satu-satunya bacaan paralel dengan pembacaan hari ini yang mengatakan bahwa Getsemani itu taman secara spesifik yaitu Yohanes 18:1. Rasul Yohanes mengatakan hal ini taman, sedangkan di Injil Matius, Markus dan Lukas hanya mengatakan Getsemani. Hal ini dalam pemikiran Yohanes ingin membandingkan antara taman Eden dengan taman Getsemani. Di taman Eden terdapat Adam yang pertama dan di taman Getsemani terdapat Adam yang kedua. Di taman Eden, Adam yang pertama jatuh dalam dosa, dan di taman Getsemani Yesus menang atas dosa.

Di taman Eden, Adam bersembunyi ketika Allah mengkonfrontasi Adam, tetapi di taman Getsemani ketika Tuhan Yesus dikonfrontasi oleh orang-orang yang ingin menangkap Dia dengan 600 (enam ratus) pasukan Romawi, Yesus menantang mereka dan mengintrogasi mereka. Di taman Eden pedang terhunus tidak boleh lagi Adam masuk ke taman Eden. Di taman Getsemani, pedang disarungkan, pedang dari Simon Petrus. Adam yang pertama dan Adam yang kedua sama-sama mengalami kematian di kedua taman itu.

Kematian Adam yang pertama tidak dikehendaki oleh Tuhan, dan kematian Adam yang kedua yaitu Yesus Kristus dikehendaki oleh Tuhan. Buku John Owen, the death of death in the death of Christ, kuasa kematian itu dimatikan di dalam kuasa kematiaan Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus ditangkap di taman Getsemani, mengandung beberapa hal yang dapat kita pelajari yaitu:

Pertama, kita melihat terdapat kedaulatan Allah. Yesus ditangkap di malam Paskah orang Yahudi. Paskah bukan penemuan orang Kristen. Paskah adalah penemuan orang Yahudi. Ketika bangsa Israel dibawa oleh Musa keluar dari tanah Mesir. Ketika malam itu, Tuhan akan membunuh semua anak sulung orang Mesir dan darah anak domba yang dioleskan di kedua tiang dan ambang pintu orang Israel, malaikat pencabut nyawa akan lewat. Pass over, Paskah dalam pengertian yang pertama yaitu melintas, Tuhan melewati anak sulung orang Israel, semua anak sulung orang Israel terbebas. Namun Anak Sulung Allah yang menggantikan domba Paskah. Hal itu terjadi pada malam Paskah, meunjukkan bahwa Yesus adalah domba Paskah, dan hal ini dalam kedaulatan Allah. Yohanes 18:1 menggunakan istilah melintasi sungai Kidron. Sungai Kidron pada saat itu berwarna merah karena lebih dari 200.000 (dua ratus ribu), domba Paskah disembelih di Yerusalem dan darahnya mengalir di sungai Kidron. Ketika Tuhan Yesus melintasi sungai Kidron sama seperti melihat sungai tersebut penuh darah. Mereka berkumpul di Yerusalem untuk memperingati keluarnya orang Israel dari perbudakan Mesir. Para Imam menangkap Yesus pada saat malam Paskah, hal ini sesuai dengan nubuatan kitab suci. Selain itu, para Imam memiliki ketakutan ketika menangkap Tuhan Yesus, karena Tuhan Yesus begitu populer. Jikalau menangkap Tuhan Yesus maka akan banyak pengikut Tuhan Yesus yang akan melawan dan bisa terjadi kerusuhan. Para Imam berpikir untuk mengandalkan pasukan Romawi, tidak cukup security yang ada di bait Allah, dan harus dengan pasukan Romawi dengan senjata lengkap. Kemungkinan menangkap Tuhan Yesus yaitu pada malam Paskah. Pada malam Paskah ditunggangi oleh suatu gerakan yang bernama Zelot. Zelot adalah suatu organisasi daripada Yahudi menggunakan malam Paskah memperingati keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir, mereka berpikir bahwa saat itulah mereka membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Romawi. Lukas 13, terdapat laporan kepada Tuhan Yesus bahwa darah anak domba tercampur dengan darah orang Yahudi, hal ini terjadi karena pada saat perayaan Paskah, Zelot memberontak dan memprovokasi untuk membebaskan diri dari penjajahan  Romawi, saat itu pasukan Romawi membunuh orang-orang Yahudi. Pada malam Paskah tersebut Tuhan Yesus ditangkap dengan meminta pasukan Romawi dari menara Antonia, sekitar 600 pasukan yang bersenjata lengkap datang ke taman Getsmani. Nubuatan Alkitab yang menyatakan Kristus adalah domba Paskah. Hal yang lain tentang kedaulatan Allah, yaitu intrik kejahatan yang luar biasa, untuk menangkap Tuhan Yesus, para Imam bekerjasama dengan pasukan Romawi. Selain hal itu terdapat money politik, Yudas disuap 30 keping perang untuk mengkhianati Gurunya. Paskah seharusnya adalah hidup yang suci, karena harus banyak domba disembelih tetapi pada saat itu para Imam-imam melakukan kejahatan yang luar biasa. Yesus yang tidak bersalah tetapi dikriminalisasikan, dan Anak Allah diperlakukan dengan begitu rendahnya, Yesus diperlakukan seperti penjahat yang berat hingga harus mengerahkan 600 pasukan untuk menangkap-Nya. Pengkhianatan Yudas juga sangat luar biasa, ketika dia setuju dengan para Imam untuk menerima 30 keping perak, dia mengatakan bahwa ketika mereka sama-sama dalam taman Getsemani dan orang yang akan Yudas cium adalah Kristus yang mereka ingin tangkap.  Mencium disini adalah dalam bahasa Yunani yaitu philein yang artinya mencium dengan kasih, seperti kisah anak yang hilang kembali ke rumah ayahnya dan ketika ayahnya bertemu dengan anaknya, dia memeluk dan mencium dengan kasih. Orang Yahudi jika bertemu biasanya mencium berarti cium salam, tetapi cium kasih memiliki makna yang begitu mendalam. Yudas setelah mencium kemudian keluar kalimat setelah itu shalom Rabi (damai sejahtera Allah beserta dengan Engkau). Ini merupakan trik kejahatan paling jahat. Intrik kejahatan yang luar biasa ini direka-rekakan Allah untuk mendatangkan kebaikan menggenapkan rencana Tuhan. Kisah Para Rasul 4:27-28, intrik kejahatan yang dilakukan dan pemufakatan yang dilakukan untuk melawan Tuhan Yesus Kristus ini adalah untuk menggenapkan ketetapan Allah dalam konteks ini. Louis Berkoff menyatakan ayat 28, bahwa kedaulatan Allah terdiri dari dua hal yaitu kuasa Allah dan kehendak Tuhan. Allah menghendaki sesuatu disertai kuasa Dia dan tidak mungkin tidak terjadi, tidak ada siapapun dapat menghalangi kehendak Allah dan ada kuasa yang menyertai. Orang-orang Reformasi menyimpulkan bahwa primary cause yang terjadi di seluruh dunia ini adalah Allah. Manusia memiliki manipulasi, setan mempunyai rekayasa, tetapi itu semua secondary cause. Primary cause adalah Tuhan sendiri, karena ada kehendak dan kuasa Tuhan sendiri, tidak ada satu orangpun yang bisa menggagalkan, dan ketika Tuhan sudah menetapkannya maka tidak mungkin tidak terjadi. Dalam kitab Daniel, Tuhan begitu direndahkan dan kejahatan begitu luar biasa, kota Yerusalem direbut, kemudian perkakas di Bait Allah diambil oleh raja Nebukadnezar dan dimasukkan dalam rumah dewanya. Terjadi pula pembuangan ke Babilonia. Namun dalam kitab Daniel pula Tuhan paling ditinggikan. Nebukadnezar yang begitu menghina Tuhan dan akhirnya berubah hatinya, Nebukadnezar menjadi raja yang menghormati dan meninggikan Allah dari Shadrach, Meshach dan Abednego. Nebukadnezar akan mencincang, menghukum, dan keluarganya akan dibunuh  jika ada orang-orang yang menghina Allah Shadrach, Meshach dan Abednego. Intrik kejahatan yang luar biasa, dari pemufakatan kuasa hukum, kuasa politik, kuasa militer, kuasa agama semuanya menjadi satu untuk menghancurkan Tuhan Yesus, tetapi dikatakan bahwa semuanya itu untuk menggenapkan rencana Allah yang kekal.

Kedua, kita belajar tentang ketaatan dari Tuhan Yesus. Tuhan Yesus ditangkap bukan tidak berkutik. Yesus Kristus bukan passive victim, seperti domba yang harus dituntun tidak memiliki hati untuk melawan karena kekuatan yang begitu hebat, terdapat 600 pasukan dari menara Antonia dan dipelengkapi dengan sejata yang begitu lengkap, karena dipikir akan memberontak dan dianggap golongan Zelot. Petrus ketika dia menyarungkan pedang setelah dia memotong telinga Maltus hamba dari Imam besar, dan Yesus berkata sarungkan pedang itu kembali. Tuhan Yesus berkata, “atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat (legions). Legions di dalam Romawi, jika 1 (satu) legions adalah 6.000 orang. Jika dua belas pasukan maka akan menjadi 72.000, masing-masing dari murid-murid dan Tuhan Yesus bisa dikawal oleh 6.000 malaikat, hal ini berarti 2 Raja-raja 19:35 “Maka pada malam itu keluarlah Malaikat TUHAN,  lalu dibunuh-Nyalah seratus delapan puluh lima ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya pagi-pagi tampaklah, semuanya bangkai orang-orang mati belaka!. Malaikat mengangkat tangan sekali saja 185.000 orang mati dalam sekejap. Tuhan Yesus pada saat itu adalah willing submission, Dia rela untuk taat, Dia rela untuk tunduk saat itu. Dalam Yohanes 18, yang menarik 600 orang gegap gempita mau menangkap Tuhan Yesus, namun Yesus yang menyapa mereka terlebih dahulu. Yesus yang mengintrogasi mereka, dengan bertanya, siapa yang mereka cari?. Mereka mengatakan mencari Yesus dari Nazaret, dan Yesus langsung menjawab, Akulah Dia yang engkau cari, pada saat itu mereka jatuh ke tanah. Hal ini menunjukkan kuasa Tuhan yang begitu besar. Yesus sebagai aktor utama dan bukan passive victim. Pada ayat 50 bacaan kita, Tuhan Yesus berkata lakukanlah apa yang telah engkau rencanakan. Jika Tuhan Yesus tidak mengatakan hal ini, Yudas tidak dapat melakukan hal apa pun. Ketaatan Tuhan Yesus bukan karena ketidakberdayaan, ketaatan Tuhan Yesus di sini seolah-olah membiarkan kejahatan itu terjadi. Markus 14:44, kejahatan ini merupakan rencana Yudas, agar 30 (tiga puluh) keping perak itu aman dalam sakunya Yudas. Seolah-olah Tuhan Yesus mengendores kejahatan yang terjadi. Ketaatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sangat sulit, dan ada kerelaan dalam hal ini. Pada ayat ke 55 mengatakan “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku?, artinya Anak Allah disangka penyamun. Dosa terbesar Adam dan Hawa bukan makan buah pohon di tengah-tengah taman itu, tetapi ketika mereka jatuh dalam dosa dan menyalahkan Tuhan. Ketika Adam ditanyakan, Adam menjawab bahwa wanita yang Tuhan tempatkan di sisinya itu yang menyebabkan dia jatuh dalam dosa. Kemudian Hawa menyalahkan ular yang Tuhan ijinkan masuk dalam taman Eden, dan iblis itu yang menggoda Hawa. Ketiga, ketika Tuhan Yesus taat, jangan berpikir bahwa Tuhan Yesus mengendores kejahatan. Ketaatan Tuhan Yesus itu untuk menggenapi kitab suci dan untuk hal itu Dia rela mati menanggung dosa kita (2 Korintus 5:20-21). Terakhir, jika kita bicara tentang ketaatan Tuhan Yesus maka disini adalah active obedience. Jikalau Tuhan Yesus tidak rela maka semuanya itu tidak akan terjadi. Jika kita melihat penderitaan Yusuf, ini merupakan passive obedience. Tiba-tiba Yusuf di jual, Yusuf mungkin tidak ingin melewati semuanya itu, jikalau diberikan pilihan. Yohanes 10:18, ketaatan Tuhan Yesus active obedience. Jikalau Tuhan Yesus tidak rela, maka tidak mungkin orang bisa membunuh Tuhan Yesus. Yesus mengetahui apa yang akan terjadi, dan apa yang akan dihadapi di atas kayu salib. Ketika di taman Getsemani, ketika berdoa, peluh Tuhan Yesus bercucuran bagaikan darah yang berjatuhan. Tuhan Yesus mengetahui secara persis apa yang akan terjadi tetapi Dia rela.

 Ketiga, kita belajar tentang belas kasihan Tuhan Yesus. Ketika Petrus menebas telinga Maltus, anak buah Imam besar. Tuhan Yesus memasang kembali telinga Maltus. Belas kasihan Yesus kepada Maltus, namun bukan hanya itu juga terhadap murd-murid-Nya. Pada saat itu terjadi, tentara Romawi juga mengeluarkan pedang mereka untuk membunuh murid-murid Tuhan Yesus. Tuhan Yesus juga tetap mengasihi Yudas, dalam kalimat Tuhan Yesus mengatakan “Friend, do what you came to do.” Ketika Tuhan Yesus mengatakan hai teman, maka hal ini menunjukkan belas kasihan Tuhan. Seperti anak yang hilang, anak bungsu meminta harta warisan padahal ayah belum meninggal. Ketika anak yang bungsu meminta harta warisan kepada ayahnya, dan diberikan kepada anak bungsu. Hal ini nampaknya ayah mengendores anak bungsu untuk melakukan kejahatan tetapi sebenarnya ayah memberikan kesempatan kepada si anak bungsu untuk bertobat, namun hal itu tidak terjadi. Demikian halnya dengan Yudas, seolah-olah Tuhan mengendores dia melakukan kejahatan namun sebenarnya Tuhan ingin memberikan Yudas kesempatan terakhir untuk tidak melakukannya. Orang Puritan percaya bahwa ada eksternal calling. Semua orang yang tidak beriman diminta datang ke KKR, hal ini merupakan eksternal calling  untuk bertobat, semuanya sama, yang tidak sama yaitu internal calling. Anak yang hilang dalam Lukas 15:17, “lalu dia disadarkan kesalahannya”. Internal calling adalah pekerjaan Roh Kudus. Demikian pula halnya Tuhan Yesus berbelas kasihan kepada Yudas. Terakhir berkaitan dengan belas kasihan Tuhan Yesus menginjili mereka yang ingin menangkap Dia.  orang yang tidak percaya, pointnya pada ayat 55. Kalimat ini bukan hanya untuk orang-orang yang menangkap Tuhan Yesus tetapi kepada Petrus yang berpikir bahwa saatnya untuk menghancurkan orang-orang Romawi. Kalimat Tuhan Yesus yang menginjili orang yang menangkap Dia, yaitu “Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku”. Kalimat ini ingin menyatakan bahwa Yesus adalah Anak domba Paskah. Kalimat penutup pada pasal ini adalah belas kasihan Tuhan Yesus bagi orang yang mau menangkap Dia, hal ini menggenapkan kitab nabi-nabi.

                                   (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – mv)