Ayat Alkitab: Yohanes 10:11-18
Ini adalah bagian yang ketiga mengenai gembala yang baik dalam Injil Yohanes. Secara umum pengajaran Yesus mengenai gembala yang baik lahir dari satu fakta kegagalan gembala-gembala Israel ketika mereka menggembalakan umat Allah. Allah memilih pemimpin spiritual atau pemimpin politik untuk memimpin Israel ke arah-Nya. Akan tetapi, Allah melihat bahwa Israel gagal. Mereka menikmati banyak hal dari pelayanan, tapi domba-domba diabaikan. Ada juga gembala yang baik; yang hidup untuk mempermuliakan Tuhan melalui pelayanan mereka terhadap jemaat. Tetapi gembala yang baik sekalipun bukan orang yang sempurna. Untuk menjawab persoalan ini, maka Allah di kitab Yehezkiel 34 mengatakan: “Aku akan mengutus seorang gembala untuk menjadi gembala bagi Israel.” Allah sendiri yang akan bertindak sebagai gembala. Namun di bagian lain dikatakan gembala itu adalah keturunan Daud. Gembala yang adalah Allah dan manusia. Satu-satunya Pribadi yang menggenapi janji ini adalah Yesus Kristus. Dia adalah Allah dan manusia. Lalu Yesus katakan “Aku adalah Gembala”. Yesus membuat paralel antara Diri-Nya dengan gembala-gembala Israel pada waktu itu. Istilah baik menunjukkan keunikan. Seorang gembala yang berbeda dari gembala-gembala lain secara kualitatif. Istilah baik bisa dikatakan sempurna. Kali ini ada Gembala yang sempurna yang menggembalakan domba-dombanya. Apa kelebihan Yesus jika dibandingkan dengan gembala-gembala yang lain?
Ay. 11, menuliskan “gembala yang baik memberikan nyawa bagi domba-domba Nya”.
Pertama, karakteristik yang agung dari gembala yang baik adalah Dia memiliki kerelaan untuk memberikan hidup-Nya bagi domba-domba Nya. Yang membedakan Yesus dari gembala yang lain adalah Dia memberikan hidup – bagian yang terpenting dari seorang manusia – kepada orang-orang yang dipimpin-Nya. Dalam 1 Sam 17:34-36, Daud mengatakan kepada Saul bahwa jika ada singa atau serigala mau menangkap domba-domba nya, maka dia akan memegang janggutnya dan memukul rahangnya supaya domba Daud dilepaskan. Kalau ada seekor domba diterkam serigala, lalu gembala mengejar serigala itu maka itu menunjukkan bahwa gembala itu memperhatikan kehidupan sang domba. Dia berusaha mempertahankan hidup domba tapi pada saat yang sama dia juga meresikokan hidupnya sendiri. Lalu apa bedanya Yesus dengan gembala yang lain? Para ahli sepakat bahwa meskipun gembala meresikokan dirinya, tapi jarang sekali ada yang mati dalam proses ini. Gembala memiliki keahlian, selain itu juga jika dia lihat dia sudah tidak bisa lagi mempertahankan domba itu, dan kehadiran serigala itu sudah membahayakan hidupnya maka sang gembala akan melarikan diri. Yesus katakan gembala upahan akan melarikan dirinya. Bukan karena mereka tidak baik atau tidak bertanggung jawab. Mereka sudah berusaha selamatkan tapi tidak bisa, maka mereka dibebaskan dari hukuman. Jika tuan domba menuntut, maka dia hanya cukup bayar denda. Mereka memang berjuang untuk domba-domba nya, tapi ketika nyawa mereka terancam, mereka akan meninggalkan domba-domba itu. Hidup adalah sesuatu yang begitu berharga sehingga tidak mungkin ada gembala yang rela mati untuk dombanya. Tapi Yesus melihat hal itu dengan berbeda. Jika hidup adalah hal yang sedemikian penting, maka kematian sang gembala adalah kecelakaan, peristiwa yang terjadi tidak sengaja. Jika gembala sudah mati, Yesus katakan, maka domba-domba akan tercerai-berai. Serigala akan datang dan membunuh domba-domba itu. Tetapi Yesus katakan bahwa Dia adalah seorang Gembala yang sempurna. Jika gembala yang lain tidak dengan sengaja memberikan nyawa-Nya, Yesus adalah Gembala yang memberikan nyawa bagi domba-domba Nya dengan sengaja. Hal yang paling dipertahankan Dia berikan untuk domba-domba Nya. Maka kematian Yesus Kristus adalah kematian yang terjadi secara sengaja, bukan kecelakaan, dan bukan malapetaka bagi domba-domba Nya. Kematian-Nya adalah anugerah bagi domba-dombaNya. Kematian Kristus tidak bisa dibandingkan dengan kematian apapun di dunia ini. Kematian-Nya membebaskan domba-Nya dari kematian kekal dan memberikan kehidupan bagi mereka. Kematian Kristus bukan karena maut datang dan memisahkan tubuh dan jiwa-Nya, tapi kematian itu terjadi karena Dia menyerahkan hidup-Nya bagi domba-dombaNya. Di satu sisi Yesus mati kelihatannya seperti dibunuh, tapi di sisi lain Yesus katakan Dia mati karena itu adalah rencana Allah. Kematian kita terjadi sebagai konsekuensi dosa. kematian kita sebenarnya bukan yang dikehendaki Allah. Tetapi kematian Yesus dikehendaki Allah. Sang Gembala yang agung yang dijanjikan Allah di Perjanjian Lama. Kematian Yesus terjadi bukan karena direbut, tapi karena Dia yang menyerahkan Diri-Nya. Ketika Yesus bangkit, Dia dibangkitkan oleh Allah tapi juga pada Diri-Nya sendiri Dia juga mengambil hidup-Nya kembali. Yesus adalah Gembala jiwa kita, bukan hanya selama kita hidup tetapi juga akan memimpin jiwa kita bahkan setelah kita mengalami kematian.
Kedua, karakteristik gembala yang agung tampak dari adanya relasi timbal balik antara sang Gembala dengan domba-dombaNya. Istilah mengenal yang dipakai adalah pengenalan yang melibatkan pengalaman. Pengenalan dan kasih ini adalah pengenalan Kristus kepada domba-domba Nya yang diakarkan dari pengalaman relasi Yesus dengan Bapa. Allah Bapa mengasihi kita, sehingga Dia sudah menetapkan dalam kekekalan bahwa kita akan menikmati keselamatan. Penetapan ini dinyatakan kepada Kristus. Kristus mengasihi Bapa dan karena itu maka Dia membuat Diri-Nya sinkron dengan Bapa, termasuk mengasihi kita. Karena Dia mengalami kasih Bapa, maka Dia juga mengasihi orang-orang yang dikasihi Bapa. Dia rela mati pertama-tama karena mengasihi Bapa, kemudian karena Dia mengasihi kita. Ini yang menjadi jaminan bagi kita. Ketika Dia mengambil keputusan taat kepada Bapa, itu adalah hal yang sulit karena Dia sudah tahu bahwa kita adalah orang yang berpotensi mengkhianati Dia. Dia tahu bahwa kita adalah domba yang tidak sempurna tetapi Dia tetap mengambil keputusan mau mati bagi kita. Dia sudah mengasihi kita sebelum kita bisa melayani Dia. Ada waktu dimana kita mungkin tidak bisa lagi melayani Dia, kita tidak lagi berguna di dalam gereja. Tapi kita harus ingat bahwa Kristus telah mengasihi kita sebelum kita menjadi orang-orang yang berguna di dalam gereja. Ini menolong kita untuk tidak sombong dan menjadi penghiburan bagi kita. Sang Gembala yang agung adalah yang sudah mengasihi kita sebelum kita ada. Dia mengasihi kita sebelum dunia dijadikan dan sebelum kita menjadi orang-orang yang mengasihi Dia. Kasih kita kepada Dia didasarkan pada pengalaman bahwa kita sudah diselamatkan oleh Dia. Hanya jika kita sudah menikmati kasih Allah yang menyelamatkan itu, baru kita bisa mengenal dan mengasihi Dia. Kasih kita pada Allah berakar pada pengalaman kelahiran baru; dimana Allah mengubah hati dan pikiran kita. Jika Kristus tidak mati bagi kita, maka kita tidak akan pernah merasakan bahwa itu adalah sesuatu yang penting. Jika kita sudah mengalami kasih Allah maka respon kita adalah menghormati Dia sebagai Pemilik kita. Kita mendengar suara-Nya dan meresponinya. Istilah mendengar dan meresponi bisa kita simpulkan sebagai satu kata: taat. Ketika kita mengasihi Allah, kita melayani, menaati dan berusaha memuliakan Dia dalam seluruh aspek hidup kita.
Pengenalan itu juga berbicara mengenai knowledge of loving fellowship. Kita bukan sekedar mengasihi Dia dan taat. Kematian Kristus adalah kematian yang berusaha untuk membawa kita supaya kita menikmati persekutuan dengan Dia. Tujuan Yesus Kristus mati adalah supaya kita masuk ke dalam hubungan yang intim dengan Allah. Masing-masing Pribadi Allah Tritunggal keluar dari Diri-Nya untuk melayani yang lain. Maka Allah orang Kristen disebut bersukacita. Sukacita bukan karena Dia menikmati diri, tapi menikmati kasih satu dengan yang lain. Salah satu hal yang membuat hidup kita terasa signifikan, secara psikologis, adalah ketika kita merasa dikasihi. Hidup kita akan terasa lebih berharga dibanding kita berada di dalam satu komunitas yang bahkan orangnya tidak mau menegur satu sama lain. Kita mendapatkan perasaan sebagai orang yang berharga bukan semata-mata dari apa yang kita kerjakan tapi juga dari apa yang kita dapatkan. Ketika Allah Tritunggal itu menyelamatkan kita, kita dimasukkan ke persekutuan yang sempurna supaya kita menikmati sukacita di dalamnya. Kalau dia adalah Gembala dan kita adalah domba, maka ada ciri yang dikatakan pemazmur, sebagai kerinduan dalam hati kita untuk mencari persekutuan dengan Gembala kita. Kematian Gembala yang agung itu adalah kematian yang membawa kita mengenal Dia dan kehendak-Nya, lalu membuat kita mengasihi Dia dan mengasihi kehendak-Nya.
Ketiga, keagungan gembala yang baik itu tampak melalui kasih dan otoritas-Nya yang dapat menjangkau domba-domba di kandang yang lain. Kekuatan kasih Allah tidak dibatasi oleh tembok. Batasan-batasan ras bisa ditembus Kristus sehingga domba-domba di kandang yang lain bisa ditarik untuk masuk ke dalam kandang Kristus. Yesus katakan bahwa jika domba di dalam kandang, dia tidak akan dengar suara gembala yang asing. Tapi aneh, Yesus katakan ada domba milik-Nya di kandang yang lain, sehingga mereka mendengar suara Yesus mereka akan keluar dari kandang itu dan masuk ke kandang milik Yesus. Di ayat 16, Yesus mengatakan bahwa mereka akan jadi satu kawanan. Pada masa Perjanjian Lama, yang disebut sebagai umat Allah itu hanya orang Israel. Orang-orang yang kemudian mau percaya kepada Allah, mereka harus masuk secara nasionalitas menjadi bagian dari umat Israel. Tetapi hari ini kita tidak harus punya dua kewarganeraaan. Yesus katakan kematian-Nya sebagai ekspresi kasih, sudah menghancurkan tembok itu. Gereja Tuhan adalah gereja yang berasal dari segala bangsa. Kasih Tuhan menembus batas ras, status sosial. Ketika Kristus mati, Dia menghancurkan tembok itu. Sayangnya, ketika gereja berdiri, perlahan-lahan gereja membangun tembok itu. Ada hal-hal sepele yang kemudian membuat kita membangun tembok terhadap satu sama lain, padahal di dalam Kristus jarak itu sudah dihancurkan. Ini tidak berarti di dalam Kristus tidak ada lagi perbedaan. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus ada anugerah yang bersifat supernatural. Kematian Kristus mempersatukan kita. Kematian sang Gembala Agung mempersatukan domba-domba yang ada di kandang yang lain menjadi satu kawanan domba yang sama. Seharusnya ketika kita ada di gereja, kita bukan hanya mengasihi dan melayani Tuhan. Namun kita seharusnya berjuang bersama-sama dengan Kristus yang telah mati dan bangkit itu, menghancurkan tembok yang membuat gereja tidak lagi memiliki rupa sebagai sebuah gereja. Inilah domba-domba Kristus yang sejati.
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – fe)

